RI-AS Tandatangani Kerja Sama Perdagangan Investasi Bernilai Triliunan Rupiah

Jumat, 20 Februari 2026 | 11:17:43 WIB
RI-AS Tandatangani Kerja Sama Perdagangan Investasi Bernilai Triliunan Rupiah

JAKARTA - Indonesia dan Amerika Serikat (AS) menandai tonggak penting dalam hubungan ekonomi bilateral dengan menyepakati komitmen kerja sama lintas sektor senilai Rp649,42 triliun atau setara 38,4 miliar dolar AS. 

Kesepakatan ini diresmikan dalam US-Indonesia Business Summit 2026, yang berlangsung di Washington D.C., Rabu, 18 Februari 2026 waktu setempat, dan dihadiri oleh perwakilan bisnis kedua negara serta asosiasi ekonomi ternama.

Dalam kesempatan itu, Presiden RI Prabowo Subianto menekankan pentingnya transparansi, disiplin, dan kredibilitas sebagai pondasi menjaga kepercayaan investor.

“Saya memahami cara kerja pasar. Pasar menghargai transparansi, disiplin dan kredibilitas. Tanggung jawab saya sebagai Presiden, memperkuat tata kelola, meningkatkan transparansi, dan memastikan bahwa kami memenuhi standar internasional. Ini tentang bagaimana menjaga integritas ekonomi kita, dan kepercayaan investor jangka panjang,” ujar Presiden Prabowo.

Kesepakatan ini mencakup sektor agro, industri manufaktur, dan berbagai bidang strategis lain. Dengan nilai total triliunan rupiah, kolaborasi ini diproyeksikan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global, sekaligus membuka peluang investasi jangka panjang.

Komitmen Sektor Agro Mencapai Puluhan Triliun

Dalam sektor pertanian dan agroindustri, nilai kesepakatan mencapai 4,5 miliar dolar AS atau setara Rp76,10 triliun. Komitmen ini meliputi pembelian bahan pangan strategis hingga 2030, seperti:

Kedelai senilai 1,37 miliar dolar AS (Rp23,17 triliun)

Gandum 1,25 miliar dolar AS (Rp21,14 triliun)

Jagung 855 juta dolar AS (Rp14,46 triliun)

Kapas 244 juta dolar AS (Rp4,13 triliun)

Produk agro lainnya senilai 800 juta dolar AS (Rp13,53 triliun)

Nilai komitmen tersebut menunjukkan potensi ekspansi pasar bagi produk pangan Indonesia, sekaligus menjadi instrumen penting menjaga ketahanan pangan nasional. Kesepakatan ini juga menjadi sinyal positif bagi pelaku usaha agro yang ingin menjangkau pasar global melalui kemitraan strategis dengan perusahaan-perusahaan AS.

Investasi Industri Manufaktur Tembus Ratusan Triliun

Sektor manufaktur menjadi sorotan utama dalam kesepakatan ini, dengan nilai investasi mencapai 33,91 miliar dolar AS atau setara Rp573,48 triliun. Beberapa poin kerja sama yang signifikan meliputi:

Kemitraan antara Kadin Indonesia dengan USABC sebesar 2 miliar dolar AS (Rp33,82 triliun)

Penyediaan bahan baku industri berupa Shredded Worn Clothing senilai 200 juta dolar AS (Rp3,38 triliun)

Investasi sektor semikonduktor: 4,89 miliar dolar AS (Rp82,70 triliun) dan 26,7 miliar dolar AS (Rp451,55 triliun)

Investasi ini tidak hanya mendukung pertumbuhan industri manufaktur, tetapi juga memperkuat kapasitas inovasi, teknologi, dan produksi berbasis high-tech, termasuk semikonduktor yang menjadi sektor strategis dalam ekonomi global saat ini.

Forum Kolaborasi dan Peningkatan Daya Saing Nasional

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, forum bisnis lintas negara menjadi kunci untuk mendorong kolaborasi di berbagai sektor. Indonesia sebagai mitra strategis AS memanfaatkan platform ini untuk meningkatkan daya saing nasional melalui inovasi digital, kecerdasan artifisial, mineral kritis, serta transisi energi dan pengolahan industri.

“Melalui kesepakatan dalam ART ini, akan semakin memperkuat akses pasar dan daya saing produk Indonesia, sehingga akan menarik investasi yang lebih besar di berbagai sektor,” ujar Menko Airlangga. 

Ia menekankan bahwa selesainya Agreement on Reciprocal Trade (ART) menandakan komitmen kedua negara dalam membuka akses pasar dan menghapus hambatan perdagangan.

Langkah ini diproyeksikan memberikan kepastian usaha, yang penting untuk investor dalam merencanakan ekspansi dan investasi jangka panjang. Forum bisnis lintas negara ini juga membuka peluang bagi pelaku usaha kecil dan menengah Indonesia untuk terintegrasi ke dalam jaringan rantai pasok global.

Arahan Presiden dan Transparansi Ekonomi

Presiden Prabowo menekankan pentingnya standar internasional dan tata kelola yang transparan sebagai fondasi kerja sama ekonomi. Pendekatan ini diharapkan menumbuhkan kepercayaan investor, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Tanggung jawab saya sebagai Presiden, memperkuat tata kelola, meningkatkan transparansi, dan memastikan bahwa kami memenuhi standar internasional. Ini tentang bagaimana menjaga integritas ekonomi kita, dan kepercayaan investor jangka panjang,” ujar Presiden Prabowo.

Kebijakan ini selaras dengan kebutuhan Indonesia untuk memperkuat struktur industri dan perdagangan yang adaptif, transparan, serta berbasis teknologi. Dengan demikian, investor memiliki kepastian hukum dan prosedur yang jelas, sekaligus menciptakan iklim usaha yang sehat dan kompetitif.

Dampak Strategis Kesepakatan RI-AS

Kesepakatan senilai Rp649,42 triliun ini diharapkan memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra ekonomi strategis global. Dengan fokus pada inovasi, teknologi, dan ketahanan pangan, langkah ini menjadi dorongan nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Selain itu, kolaborasi lintas sektor ini memperluas jaringan pasar, membuka peluang ekspor baru, dan meningkatkan kapasitas produksi domestik. Bagi investor AS, Indonesia menawarkan pasar yang besar, stabilitas ekonomi, serta kepastian regulasi.

Secara keseluruhan, kerja sama ini menunjukkan bagaimana hubungan bilateral dapat memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi kedua negara, sekaligus menegaskan peran Indonesia di panggung ekonomi global.

Terkini